Kamis, 23 Januari 2014

Tak Ingin Seperti Jakarta, Warga Batu Tolak Pembangunan Hotel The Rayja



Posted: Kamis, 23/01/2014 12:53
Liputan6.com, Malang : Ribuan warga Kota Batu, Jawa Timur, yang tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli Mata Air (FMPMA) mendatangi Balaikota Batu. Kedatangan mereka untuk menolak pembangunan sebuah hotel di dekat sumber air Gemulo.
"Pembangunan hotel berpotensi merusak sumber air dan lingkungan. Kami tidak ingin lingkungan konservasi ini dirusak oleh pembangunan," kata Zainal, salah seorang demonstran dalam orasinya, Kamis (23/1/2014).
Menurutnya, Walikota Batu, Eddy Rumpoko, pernah berjanji mencabut izin pembangunan. Faktanya, sampai sekarang pembangunan masih berlangsung. Karena itu warga menuntut Eddy Rumpoko untuk merealisasikan janjinya.
"Jakarta sudah banjir karena kerusakan lingkungan di Bogor. Manado juga mengalami kerusakan lingkungan hingga ada banjir. Kami tidak ingin Kota Batu mengalami kejadian yang sama," tandas Zainal.
Hotel The Rayja dibangun dalam radius sekitar 200 meter dari sumber air Gemulo. Sumber air tersebut digunakan masyarakat Desa Bulukerto, Desa Bumiaji, dan desa sekitarnya. Warga menilai lokasi pembangunan hotel juga berada di kawasan konservasi.
Penolakan warga terhadap pembangunan Hotel The Rayja sendiri sudah dilakukan berkali-kali. Bahkan, konflik ini pernah dimediasi oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.
Kementerian Lingkungan Hidup juga sudah melakukan kajian. Hasilnya, diterbitkan rekomendasi bahwa perizinan pembangunan hotel yang diterbitkan Pemkot Batu tersebut menyalahi prosedur. Ombudsman Republik Indonesia juga mengeluarkan rekomendasi serupa.
Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur, Purnawan D Negara, mengatakan warga berhak memperjuangkan haknya atas air.
"Pasal 66 Undang-undang Lingkungan Hidup menyebutkan, setiap orang berhak memperjuangkan haknya untuk lingkungan dan tak dapat dipidanakan atau digugat secara perdata," kata Purnawan.
Warga sendiri berjalan kaki sejauh 2 kilometer dari Desa Bumiaji menuju Balaikota Batu. Aksi tersebut membuat jalur utama Malang-Kediri lumpuh dan terpaksa dialihkan. Ratusan personel kepolisian disiagakan mengamankan aksi ini. (Ado/Yus)

Massa Istighosah, Berjuang untuk Sumber Mata Air Gemulo



Kamis, 23 Januari 2014 11:50 WIB
SURYA Online.COM,BATU - Massa peduli sumber mata air Umbul Gemulo, ngotot menagih janji Wali Kota Batu Eddy Rumpoko merealisasikan rekomendasi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Ombusdman.
Di bawah terik matahari, mereka duduk di tengah jalan depan balai kota Batu sambil melakukan istighosah bersama.
Istighosah tersebut dimaksudkan supaya perjuangan mereka hampir 2 tahun ini supaya pembangunan hotel The Rayja di Jl Raya Punten yang bersebelahan dengan sumber mata air Gemulo berhasil.
Mereka menuntut supaya tidak ada pembangunan di sekitar sumber mata air.
Masyarakat sekitar Gemulo khawatir, jika ada hotel di sekitar itu, maka akan menurunkan debit air sumber dan air tercemar limbah hotel.
"Kita istighosah dulu sambil menunggu perwakilan selesai menyampaikan aspirasi kepada pihak Pemkot Batu," ajak pemimpin istighosah, Kamis (23/1/2014).
Seperti diketahui, massa itu datang ke balai kota sekitar pukul 09.30.
Setelah 45 menit berorasi, 21 perwakilan massa akhirnya dibolehkan masuk ke balai kota menyampaikan aspiranya.
Ratusan personil polisi pun menjaga ketat aksi ini. Bahkan, dua anjing K-9 diturunkan.

Pertemuan Tertutup antara Warga Peduli Mata Air Gemulo dan Pemkot



SURYA Online,BATU-

Kamis, 23 Januari 2014 10:51 WIB
Setelah menunggu sekitar 45 menit, pihak pemerintah kota (pemkot) Batu akhirnya mau menemui 21 perwakilan warga peduli sumber Umbul Gemulo.
Untuk masuk ke dalam balai kota, pihak kepolisian menyeleksi betul perwakilan yang diamanatkan oleh massa.

Namun, pertemuan itu tidak boleh diliput media. Pasukan Satpol PP yang menjaga di balik pagar besi itu melarang semua media mengikuti pertemuan.
Ketika beberapa awak media ingin meliput pertemuan, Satpol PP tersebut langsung menutup pagar dengan rapat.
"Tidak boleh...tidak boleh," kata salah satu Satpol PP tersebut sembari menutup pagar tanpa memberi alasan jelas, Kamis (23/1/2014).
Seperti diketahui, ratusan warga peduli sumber mata air Umbul Gemulo menggelar aksi menagih janji Wali Kota Batu Eddy Rumpoko merealisasikan rekomendasi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Ombudsman di balai kota.
Inti rekomendasi itu, Pemkot diminta mencabut izin mendirikan bangunan (IMB) hingga pihak pembangun hotel The Rayja di Jl Raya Punten mengandongi analisi mengenai dampak lingkungan (amdal).

Massa Forum Masyarakat Peduli Mata Air Gemulo Mulai Panas



Kamis, 23 Januari 2014 10:45 WIB


SURYA Online,BATU - Ratusan massa yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Sumber Air Gemulo, sudah tiba Kantor Balaikota selama setengah jam lamanya, Kamis (23/1).
Mereka ingin menyampaikan aspirasi menagih janji Wali Kota merealisasikan rekomendasi dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Ombusdman terkait pencabutan ijin  pembangunan hotel The Rayja di Jl Raya Punten yang bersebelahan dengan Umbul gemulo.
Mereka ingin bertemu dengan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko. Namun, keinginan mereka tidak bisa masuk ke dalam balai kota. Pihak pemerintah kota (pemkot) belum mau menyanggupi. Mereka pun emosi.
Seorang orator pun menyebut, bahwa pemkot Batu tidak peduli terhadap lingkungan. Pemkot telah disetir oleh pengusaha.
"Kami ingin 21 perwakilan kami masuk untuk menyampaikan aspirasi. Tapi tidak disanggupi. Kami bukan pemberontak," ujar Zainal, orator.
Di antara massa dan polisi, massa menaruh sebuah tumpeng nasi kuning. Di sekelilingnya terdapat telur dan ayam.